Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura (Inspirasi)

Advertisement
Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura - Huang, seorang nelayan yang sangat miskin. Ia tinggal bersama istrinya dalam sebuah gubuk reyot di pinggir pantai, jauh dari keramaian maupun tetangga. Dulu, ketika ia masih muda dan kuat ia bekerja sebagai nahkoda pada perahu pencari ikan. Namun, sekarang ia hanya mengandalkan alat pancing untuk menangkap ikan, tentu saja hasilnya pun sangat sedikit dan sering kali hanya cukup untuk lauk hari itu saja. Agar dapat membeli beras, minyak dan kebutuhan dasar lainnya, Huang mencari telur kura-kura.

Suatu pagi yang sangat dingin, setelah semalaman daerah pesisir itu dihantam badai, Huang tetap pergi ke pantai. Memang dalam cuaca demikian ia tak mungkin mendapatkan hasil dengan memancing, tetapi ia dapat mengumpulkan telur kura-kura atau penyu. Tetapi pagi itu tidak seperti pagi-pagi lainnya, sulit menemukan sarang kura-kura. Ketika ia hampir menyerah, ia melihat beberapa telapak kaki kura-kura yang samar-samar. Huang mencoba keberuntungannya dengan menggali suatu tempat yang kelihatannya mirip dengan tempat kura-kura menguburkan telur. Ternyata dugaannya benar, setelah menggali beberapa saat, Huang segera melihat kumpulan telur yang tak kurang dari 100 butir jumlahnya.
Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura
Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura
Dengan bersemangat ia mulai memunguti telur-telur itu. Namun, babru dua butir telur berhasil ia pindahkan ke dalam keranjangnya, tiba-tiba mendengar suara pelan dan halus berseru: "Tuan yang baik hati, tolong jangan mengambil telur-telurku."

Tangan Huang terhenti di udara. Ia mencari-cari sumber suara itu dengan sia-sia. "Ah pasti pendengaranku bermasalah! Tidak ada siapa-siapa!" Pikirnya sambil kembali memunguti telur-telur itu. Tetapi kali ini, belum juga tangannya menyentuh sebutir telur pun, suara yang halus dan pelan itu kembali terdengar berseru: "Tuan yang baik hati, tolong jangan kau mengambil telur-telurku.Jika tuan lakukan, telur-telur tu tak akan sempat menetas menjadi kura-kura, dan lama kelamaan jenis kami akan punah."

Kali ini Huang menyadari bukan pendengarannya bermasalah, seseorang benar-benar berbicara kepadanya. "Siapa yang berbicara ini? Dimanakah kau?" Ia bbalas berseru sambil celingukan.

"Aku di sini, Tuan! Dalam lubang pasir di samping kakimu!" sahut suara itu.

Setelah mengamati dengan teliti, Huang melihat seekor kura-kura yang cukup besar di dalam lubang pasir. Kira-kura itu menatap Huang dengan air mata berlinangan. Huang pun merasa iba, ia meletakkan kembali beberapa butir telur yang telah diambilnya tadi ke tempatnya semula, lalu ia menutup kembali sarang kura-kura itu.

"Terima kasih, Tuan sangat baik hati. kata kura-kura itu. "Untuk membalas kebaikan hatimu, aku akan mengabulkan 3 permohonanmu. Puanglah sekarang dan pikirkan baik-baik apa yang akan Tuan minta."

"Tiga permintaan!Apa saja boleh?" Mata Huang berbinar-binar, "kalau begitu, aku minta uang yang bany....

"Apa saja yang Tuan inginkan kecuali uang, emas, intan, dan batu permata berharga. Gunakanlah sebaik-baiknya, tiga permohonan yang Tuan ajukan hari ini, apapun itu akan terkabulkan."

Mendengar itu, Huang merasa girang bercampur bingung. Sambil berjalan pulang ia berpikir keras apa gerangan 3 permohonan yang akan diajukan kepada kura-kura ajaib itu. Seandainya saja ia bisa meminta uang yang banyak sekali, ia akan bisa menggunakannya untuk membeli apa saja yang diinginkannya.Membeli gedung megah di kota, membeli pakaian musim dingin untuk dirinya dan istrinya, dan menimbun bahan makanan yang tak habis dimakan selama hidup sehingga ia tak perlu lagi bersusah payah mencari ikan ataupun memungut telur kura-kura.

Sebentar kemudian, pikirannya bercabang: "Sebaiknya aku juga meminta perahu besar, untuk menangkap ikan di laut bebas. Atau aku minta sepetak sawah dan menjadi petani!"

Tiba-tiba perutnya berbunyi dan terasa perih karena lapar, maklumlah sepanjang pagi itu ia belum makan apa-apa."Alangkah bahagianya kalau saja aku bisa makan makanan yang lezat! Hmm.. aku akan minta makanan-makanan lezat saja!" Ia memutuskan. "Tapi makanan apa yang harus aku minta?" Dengan pikiran yang penuh khayal seperti itu ia akhirnya tiba di gubuknya.

"Cepat sekali kau sudah pulang, suamiku? Mana telur kura-kura yang kau kumpulkan?" sambut istrinya heran. Huang tidak menjawab, ia masih sibuk berkhayal makanan-makanan lezat apa yang akan dipilihnya. Sungguh sulit menetapkan pilihan, sebab ia tak boleh memilih lebih dari 3 permohonan. Ia lalu teringat akan sosis panggang yang hanyat, harum dan lezat yang sering dilihatnya bergelantungan di dalam etalase sebuah restoran di kota. Tanpa terasa ia pun bergumam: "Aku tahu sekarang! Sosis yang hangat dan harum!"

Ajaib! Baru saja habbis kata-katanya, mendadak puluhan potong sosis hangat dan harum menjelma begitu saja di atas meja di depan matanya. Melihat kejadian itu, terkejutlah istrinya dan ia pun menuntut penjelasan. Tak ada pilihan, Huang menuturkan pertemuannya dengan kura-kura ajaib di pantai tadi dan tentang 3 permohonan yang dijanjikan kura-kura itu.

Mendengar itu, sadarlah istrinya bahwa satu dari tiga permohonan sudah digunakan, ia menjadi kesal. "Dasar dungu! Kenapa kau meminta sosis? Kau sungguh bodoh! Biar saja sosis tumbuh di hidungmu sekalian!" Dan begitu selesai kalimat itu terucap, rangkaian sosis-sosis di atas meja mendadak melekat pada hidung Huang. permohonan kedua telah digunakan secara serampangan.

Melihat itu istrinya sigap menarik rangkaian sosis-sosis itu agar terlepas dari hidung suaminya. Tetapi sosis-sosis itu seolah-olah tumbuh akar dan tak dapat dilepaskan, sebaliknya membuat Huang menjerit-jerit kesakitan. "Sakit sekali! Aku tak tahan lagi!" Huang mengaduh keras. Sementara istrinya terus berusaha menarik, membetot dan menghentak, sosis-sosis itu tetap saja melekat dengan kuatnya pada hidung Huang.

Tidak tega menyaksikan penderitaan suaminya, istri Huang terpaksa menggunakan permohonan ketiga untuk melepaskan sosis-sosis itu dari hidung suaminya. 3 permohonan, 3 kesempatan hilanglah sudah.

Keesokan paginya ketika Huang kembali ke pinggir laut untuk memancing, kura-kura itu tiba-tiba muncul di dekat kakinya. "Tuan yang baik hati, karena tidak sengaja kau telah menyalahgunakan ketiga permohonan itu, aku ingin memberimu satu permohonan lagi. Mintalah apa saja yang kau kehendaki sekarang>" Kata kura-kura itu.

Huang menarik nafas panjang sambil meraba ujung hidungnya yang masih terasa sakit. "Sudahlah, aku tak ingin apa-apa lagi, yang penting aku dan istriku selalu sehat walafiat dan damai tenteram"

Kura-kura itu terkekeh: "Sesungguhnya itu adalah permintaan yang terbaik, terjadilah demikian!" sejak saat itu Huang dan istrinya selalu sehat walafiat dan Huang selalu mendapatkan ikan setiap kali ia melemparkan umpan ke laut, meskipun tak pernah berlebihan, namun selalu berkecukupan.

Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura (Inspirasi)

Kebanyakan orang akan berpendapat bahwa hal yang paling diinginkannya dalam hidup ini adalah uang yang banyak. Diluar semua itu, seringkali kita mengabaikan kenyataan bahwa diatas segala kekayaan dan harta adalah kesehatan, kepuasan dan rasa syukur terhadap apa yang kita miliki saat ini. Pada banyak kasus dalam hidup ini, banyak sekali yang sibuk mengumpulkan uang, meskipun harus mengorbankan kesehatan dan lain-lain. Hingga pada waktunya, ketika kesehatan mereka memburuk, mereka baru menyadari betapa berharganya kesehatan. Pada tahap ini, seberapa banyak pun uang yang mereka miliki akan merkea habiskan untuk mengembalikan kesehatan mereka. 

Banyak sekali orang yang selalu merasa kekurangan dalam hidupnya. Diluar semua itu, satu hal yang tak mereka sadari bahwa mereka masih mempunyai satu kekayaan yang tak terukur nilainnya, yaitu kesehatan.

Demikialah artikel inspirasi tentang Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura. Semoga bermanfaat :-)

Kisah ini disadur dari buku Cara Pasti Menjadi Kaya karangan Erni Julian Kwok

Artikel motivasi dinda-dimas lainnya mengenai:
Advertisement
Kisah Huang si Nelayan Miskin dan Kura-Kura (Inspirasi) | sapi ontel | 5

0 comments:

Posting Komentar